Kalender Jawa Online Hari Ini 2026

Desainkalender.com – Kalender Jawa adalah sistem penanggalan unik yang diciptakan Sultan Agung (Kerajaan Mataram Islam) pada 1633 M, memadukan kalender Hijriah (bulan), Saka (matahari), dan Jawa lokal. Kalender ini digunakan untuk menentukan hari baik (pernikahan/hajat), perwatakan, dan peruntungan, berbasis kombinasi siklus mingguan (padinan) dan 5 hari pasaran.

Berikut ini adalah kalender jawa hari ini, lengkap tampilan dalam satu bulan penuh dilengkapi dengan hari pasaran, wuku, mongso dan juga kalender hijriyah islam.

Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
1
14 Sela | Pon
Wuku Kurantil
Mongso Desta
14-Dzulqaidah-1447 H
2
15 Sela | Wage
Wuku Kurantil
Mongso Desta
15-Dzulqaidah-1447 H
3
16 Sela | Kliwon
Wuku Tolu
Mongso Desta
16-Dzulqaidah-1447 H
4
17 Sela | Legi
Wuku Tolu
Mongso Desta
17-Dzulqaidah-1447 H
5
18 Sela | Pahing
Wuku Tolu
Mongso Desta
18-Dzulqaidah-1447 H
6
19 Sela | Pon
Wuku Tolu
Mongso Desta
19-Dzulqaidah-1447 H
7
20 Sela | Wage
Wuku Tolu
Mongso Desta
20-Dzulqaidah-1447 H
8
21 Sela | Kliwon
Wuku Tolu
Mongso Desta
21-Dzulqaidah-1447 H
9
22 Sela | Legi
Wuku Tolu
Mongso Desta
22-Dzulqaidah-1447 H
10
23 Sela | Pahing
Wuku Gumbreg
Mongso Desta
23-Dzulqaidah-1447 H
11
24 Sela | Pon
Wuku Gumbreg
Mongso Desta
24-Dzulqaidah-1447 H
12
25 Sela | Wage
Wuku Gumbreg
Mongso Sada
25-Dzulqaidah-1447 H
13
26 Sela | Kliwon
Wuku Gumbreg
Mongso Sada
26-Dzulqaidah-1447 H
14
27 Sela | Legi
Wuku Gumbreg
Mongso Sada
27-Dzulqaidah-1447 H
15
28 Sela | Pahing
Wuku Gumbreg
Mongso Sada
28-Dzulqaidah-1447 H
16
29 Sela | Pon
Wuku Gumbreg
Mongso Sada
29-Dzulqaidah-1447 H
17
30 Sela | Wage
Wuku Warigalit
Mongso Sada
30-Dzulqaidah-1447 H
18
1 Besar | Kliwon
Wuku Warigalit
Mongso Sada
1-Dzulhijjah-1447 H
19
2 Besar | Legi
Wuku Warigalit
Mongso Sada
2-Dzulhijjah-1447 H
20
3 Besar | Pahing
Wuku Warigalit
Mongso Sada
3-Dzulhijjah-1447 H
21
4 Besar | Pon
Wuku Warigalit
Mongso Sada
4-Dzulhijjah-1447 H
22
5 Besar | Wage
Wuku Warigalit
Mongso Sada
5-Dzulhijjah-1447 H
23
6 Besar | Kliwon
Wuku Warigalit
Mongso Sada
6-Dzulhijjah-1447 H
24
7 Besar | Legi
Wuku Warigagung
Mongso Sada
7-Dzulhijjah-1447 H
25
8 Besar | Pahing
Wuku Warigagung
Mongso Sada
8-Dzulhijjah-1447 H
26
9 Besar | Pon
Wuku Warigagung
Mongso Sada
9-Dzulhijjah-1447 H
27
10 Besar | Wage
Wuku Warigagung
Mongso Sada
10-Dzulhijjah-1447 H
28
11 Besar | Kliwon
Wuku Warigagung
Mongso Sada
11-Dzulhijjah-1447 H
29
12 Besar | Legi
Wuku Warigagung
Mongso Sada
12-Dzulhijjah-1447 H
30
13 Besar | Pahing
Wuku Warigagung
Mongso Sada
13-Dzulhijjah-1447 H
31
14 Besar | Pon
Wuku Julungwangi
Mongso Sada
14-Dzulhijjah-1447 H

Untuk Cek Kalender dengan sistem penanggalan Jawa Berdasarkan Bulan Masehi di tahun 2026 , kami bisa tekan nama-nama bulan dibawah ini.

Januari | Februari | Maret | April | Mei | Juni | Juli | Agustus | September | Oktober | Noevmber | Desember

Berikut adalah poin-poin penting mengenai kalender Jawa:

  • Perpaduan Dua Sistem (Lunisolar): Kalender Jawa unik karena menggabungkan pergerakan bulan terhadap bumi dan bumi mengelilingi matahari.
  • Siklus Hari & Pasaran:
    • Padinan (7 hari): Senin, Selasa, Rabu, Kami, Jumat, Sabtu,Minggu.
    • Pasaran (5 hari): Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
  • Weton: Kombinasi hari (padinan) dan pasaran menghasilkan hari kelahiran atau weton yang sering digunakan untuk meramal perwatakan dan kecocokan.
  • Nama Bulan (Siklus 12 bulan)Suro, Sapar, Mulud, Bakdo Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dzulqoidah, dan Besar.
  • Istilah Lain: Mengenal juga Windu (siklus 8 tahun), Kurup (120 tahun), dan Pranatamangsa (penanggalan berbasis musim untuk pertanian).

Siklus Neptu dan Hari Pasaran Jawa

Neptu hari dan pasaran Jawa adalah sistem penjumlahan nilai hari dalam kalender Jawa yang digunakan untuk berbagai keperluan tradisional, seperti menentukan hari baik (weton), kecocokan jodoh, hari selametan , memulai bisnis, jual beli dan waktu penting lainnya.

Dalam penanggalan Jawa ada dua siklus:

  1. Hari (7 harian): Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu.
  2. Pasaran (5 harian): Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.

Masing-masing memiliki nilai angka (neptu):

Neptu Hari:

  • Minggu = 5
  • Senin = 4
  • Selasa = 3
  • Rabu = 7
  • Kamis = 8
  • Jumat = 6
  • Sabtu = 9

Neptu Pasaran:

  • Legi = 5
  • Pahing = 9
  • Pon = 7
  • Wage = 4
  • Kliwon = 8

Neptu seseorang dihitung dengan menjumlahkan nilai hari dan pasarannya saat ia lahir (disebut weton). Hasil penjumlahan ini dipercaya memiliki makna tertentu menurut tradisi Jawa.

Wuku dalam penanggalan Jawa

Wuku dalam penanggalan Jawa adalah siklus pekan tradisional yang berlangsung selama 30 wuku, masing-masing berdurasi 7 hari, sehingga satu siklus wuku berjumlah 210 hari. Sistem ini berasal dari tradisi Hindu-Jawa dan masih digunakan untuk menentukan hari baik, perhitungan weton, serta keperluan adat dan spiritual dalam budaya Jawa dan Bali.

Nama-nama 30 Wuku:

  1. Sinta
  2. Landep
  3. Wukir
  4. Kurantil
  5. Tolu
  6. Gumbreg
  7. Warigalit
  8. Warigagung
  9. Julungwangi
  10. Sungsang
  11. Galungan
  12. Kuningan
  13. Langkir
  14. Mandasiya
  15. Julungpujut
  16. Pahang
  17. Kuruwelut
  18. Marakeh
  19. Tambir
  20. Medangkungan
  21. Maktal
  22. Wuye
  23. Manahil
  24. Prangbakat
  25. Bala
  26. Wugu
  27. Wayang
  28. Kulawu
  29. Dukut
  30. Watugunung

Setelah wuku ke-30 (Watugunung), siklus kembali lagi ke wuku pertama (Sinta). Sistem wuku ini juga dikenal dalam kalender Bali dan masih dipakai dalam perhitungan hari raya tradisional seperti Galungan dan Kuningan.

Mongso dalam Penanggalan Jawa

Mongso (mangsa) adalah sistem penanggalan musim dalam tradisi Jawa yang membagi satu tahun menjadi 12 musim berdasarkan peredaran matahari (kalender surya). Sistem ini dikenal sebagai Pranata Mangsa dan secara historis dibakukan pada masa Sunan Pakubuwana VII di Surakarta pada abad ke-19. Mongso terutama digunakan sebagai pedoman pertanian tradisional untuk membaca tanda-tanda alam, menentukan waktu tanam, dan memprediksi pola hujan–kemarau.

Satu siklus kalender pranoto mongso berlangsung sekitar 365 hari dan biasanya dimulai sekitar 22 Juni (mangsa Kasa). Tanggalnya bisa sedikit bergeser mengikuti tahun kabisat dan penyesuaian kalender.


Siklus 12 Mongso (Pranata Mangsa)

Berikut urutan lengkap mongso beserta perkiraan rentang tanggal Masehi dan lamanya hari:

  1. Kasa (± 22 Juni – 1 Agustus) — 41 hari
  2. Karo (± 2 Agustus – 24 Agustus) — 23 hari
  3. Katelu (± 25 Agustus – 17 September) — 24 hari
  4. Kapat (± 18 September – 12 Oktober) — 25 hari
  5. Kalima (± 13 Oktober – 8 November) — 27 hari
  6. Kanem (± 9 November – 21 Desember) — 43 hari
  7. Kapitu (± 22 Desember – 2 Februari) — 43 hari
  8. Kawolu (± 3 Februari – 28 Februari) — 26 hari
  9. Kasanga (± 1 Maret – 25 Maret) — 25 hari
  10. Kadasa (± 26 Maret – 18 April) — 24 hari
  11. Dhesta (± 19 April – 11 Mei) — 23 hari
  12. Sadha (± 12 Mei – 21 Juni) — 41 hari

Setelah Sadha, siklus kembali ke Kasa.


Pola Musim dalam Mongso

Secara umum, mongso menggambarkan peralihan musim sebagai berikut:

  • Kasa–Katelu → puncak kemarau (tanah retak, daun berguguran)
  • Kapat–Kalima → pancaroba (tanda-tanda hujan mulai datang)
  • Kanem–Kapitu → musim hujan (curah hujan tinggi)
  • Kawolu–Kasanga → hujan mulai berkurang
  • Kadasa–Sadha → kemarau kembali datang

Namun, dalam praktik modern, pola ini bisa berubah akibat perubahan iklim.


Contoh Penerapan Mongso

1. Pertanian Tradisional

Petani Jawa menggunakan mongso untuk menentukan waktu tanam:

  • Kalima–Kanem: mulai mengolah sawah karena hujan turun.
  • Kapitu: masa subur untuk padi karena air melimpah.
  • Kasanga–Kadasa: panen padi.
  • Kasa–Karo: cocok untuk palawija (jagung, ketela) saat kemarau.

2. Perikanan & Kelautan

Nelayan tradisional membaca mongso untuk memperkirakan arah angin dan gelombang, terutama saat peralihan kemarau–hujan.

3. Budaya & Filosofi

Mongso juga memiliki makna simbolik tentang siklus kehidupan: masa kering (ujian), masa hujan (kesuburan), dan peralihan (perubahan). Ini mencerminkan harmoni manusia dengan alam.

Mongso dalam penanggalan Jawa adalah sistem musim berbasis peredaran matahari yang membagi tahun menjadi 12 bagian dengan karakter alam tertentu. Selain menjadi pedoman pertanian tradisional, mongso juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Jawa dalam membaca tanda-tanda alam dan menjaga keseimbangan hidup.Categories