Kalender Jawa Bulan Maret 2026

Berikut kalender Jawa untuk bulan Maret 2026 lengkap dengan tanggal Jawa dan weton (hari + pasaran). Ini mencakup seluruh bulan dari 1 Maret – 31 Maret 2026.

Kalender ini berguna untuk menentukan waktu baik menurut tradisi Jawa, menghitung neptu, cek perkiraan cuaca, arah mata angin atau mengetahui weton lahir seseorang.

Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
1
12 Pasa | Pahing
Wuku Wugu
Mongso Kasanga
12-Ramadhan-1447 H
2
13 Pasa | Pon
Wuku Wugu
Mongso Kasanga
13-Ramadhan-1447 H
3
14 Pasa | Wage
Wuku Wugu
Mongso Kasanga
14-Ramadhan-1447 H
4
15 Pasa | Kliwon
Wuku Wugu
Mongso Kasanga
15-Ramadhan-1447 H
5
16 Pasa | Legi
Wuku Wugu
Mongso Kasanga
16-Ramadhan-1447 H
6
17 Pasa | Pahing
Wuku Wugu
Mongso Kasanga
17-Ramadhan-1447 H
7
18 Pasa | Pon
Wuku Wugu
Mongso Kasanga
18-Ramadhan-1447 H
8
19 Pasa | Wage
Wuku Wayang
Mongso Kasanga
19-Ramadhan-1447 H
9
20 Pasa | Kliwon
Wuku Wayang
Mongso Kasanga
20-Ramadhan-1447 H
10
21 Pasa | Legi
Wuku Wayang
Mongso Kasanga
21-Ramadhan-1447 H
11
22 Pasa | Pahing
Wuku Wayang
Mongso Kasanga
22-Ramadhan-1447 H
12
23 Pasa | Pon
Wuku Wayang
Mongso Kasanga
23-Ramadhan-1447 H
13
24 Pasa | Wage
Wuku Wayang
Mongso Kasanga
24-Ramadhan-1447 H
14
25 Pasa | Kliwon
Wuku Wayang
Mongso Kasanga
25-Ramadhan-1447 H
15
26 Pasa | Legi
Wuku Kelawu
Mongso Kasanga
26-Ramadhan-1447 H
16
27 Pasa | Pahing
Wuku Kelawu
Mongso Kasanga
27-Ramadhan-1447 H
17
28 Pasa | Pon
Wuku Kelawu
Mongso Kasanga
28-Ramadhan-1447 H
18
29 Pasa | Wage
Wuku Kelawu
Mongso Kasanga
29-Ramadhan-1447 H
19
30 Pasa | Kliwon
Wuku Kelawu
Mongso Kasanga
30-Ramadhan-1447 H
20
1 Sawal | Legi
Wuku Kelawu
Mongso Kasanga
1-Syawal-1447 H
21
2 Sawal | Pahing
Wuku Kelawu
Mongso Kasanga
2-Syawal-1447 H
22
3 Sawal | Pon
Wuku Dukut
Mongso Kasanga
3-Syawal-1447 H
23
4 Sawal | Wage
Wuku Dukut
Mongso Kasanga
4-Syawal-1447 H
24
5 Sawal | Kliwon
Wuku Dukut
Mongso Kasanga
5-Syawal-1447 H
25
6 Sawal | Legi
Wuku Dukut
Mongso Kasanga
6-Syawal-1447 H
26
7 Sawal | Pahing
Wuku Dukut
Mongso Kasepuluh
7-Syawal-1447 H
27
8 Sawal | Pon
Wuku Dukut
Mongso Kasepuluh
8-Syawal-1447 H
28
9 Sawal | Wage
Wuku Dukut
Mongso Kasepuluh
9-Syawal-1447 H
29
10 Sawal | Kliwon
Wuku Watugunung
Mongso Kasepuluh
10-Syawal-1447 H
30
11 Sawal | Legi
Wuku Watugunung
Mongso Kasepuluh
11-Syawal-1447 H
31
12 Sawal | Pahing
Wuku Watugunung
Mongso Kasepuluh
12-Syawal-1447 H

Kalender Jawa

Kalender Jawa adalah sistem penanggalan unik yang diciptakan Sultan Agung (Kerajaan Mataram Islam) pada 1633 M, memadukan kalender Hijriah (bulan), Saka (matahari), dan Jawa lokal. Kalender ini digunakan untuk menentukan hari baik (pernikahan/hajat), perwatakan, dan peruntungan, berbasis kombinasi siklus mingguan (padinan) dan 5 hari pasaran.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai kalender Jawa:

  • Perpaduan Dua Sistem (Lunisolar): Kalender Jawa unik karena menggabungkan pergerakan bulan terhadap bumi dan bumi mengelilingi matahari.
  • Siklus Hari & Pasaran:
    • Padinan (7 hari): Senin, Selasa, Rabu, Kami, Jumat, Sabtu,Minggu.
    • Pasaran (5 hari): Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
  • Weton: Kombinasi hari (padinan) dan pasaran menghasilkan hari kelahiran atau weton yang sering digunakan untuk meramal perwatakan dan kecocokan.
  • Nama Bulan (Siklus 12 bulan): Suro, Sapar, Mulud, Bakdo Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dzulqoidah, dan Besar.
  • Istilah Lain: Mengenal juga Windu (siklus 8 tahun), Kurup (120 tahun), dan Pranatamangsa (penanggalan berbasis musim untuk pertanian).
kalender jawa bulan maret 2026 -desainkalender.com
kalender jawa bulan maret 2026 -desainkalender.com

Siklus Neptu dan Hari Pasaran Jawa

Neptu hari dan pasaran Jawa adalah sistem penjumlahan nilai hari dalam kalender Jawa yang digunakan untuk berbagai keperluan tradisional, seperti menentukan hari baik (weton), kecocokan jodoh, hari selametan , memulai bisnis, jual beli dan waktu penting lainnya.

Dalam penanggalan Jawa ada dua siklus:

  1. Hari (7 harian): Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu.
  2. Pasaran (5 harian): Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.

Masing-masing memiliki nilai angka (neptu):

Neptu Hari:

  • Minggu = 5
  • Senin = 4
  • Selasa = 3
  • Rabu = 7
  • Kamis = 8
  • Jumat = 6
  • Sabtu = 9

Neptu Pasaran:

  • Legi = 5
  • Pahing = 9
  • Pon = 7
  • Wage = 4
  • Kliwon = 8

Neptu seseorang dihitung dengan menjumlahkan nilai hari dan pasarannya saat ia lahir (disebut weton). Hasil penjumlahan ini dipercaya memiliki makna tertentu menurut tradisi Jawa.

Wuku dalam penanggalan Jawa

Wuku dalam penanggalan Jawa adalah siklus pekan tradisional yang berlangsung selama 30 wuku, masing-masing berdurasi 7 hari, sehingga satu siklus wuku berjumlah 210 hari. Sistem ini berasal dari tradisi Hindu-Jawa dan masih digunakan untuk menentukan hari baik, perhitungan weton, serta keperluan adat dan spiritual dalam budaya Jawa dan Bali.

Nama-nama 30 Wuku:

  1. Sinta
  2. Landep
  3. Wukir
  4. Kurantil
  5. Tolu
  6. Gumbreg
  7. Warigalit
  8. Warigagung
  9. Julungwangi
  10. Sungsang
  11. Galungan
  12. Kuningan
  13. Langkir
  14. Mandasiya
  15. Julungpujut
  16. Pahang
  17. Kuruwelut
  18. Marakeh
  19. Tambir
  20. Medangkungan
  21. Maktal
  22. Wuye
  23. Manahil
  24. Prangbakat
  25. Bala
  26. Wugu
  27. Wayang
  28. Kulawu
  29. Dukut
  30. Watugunung

Setelah wuku ke-30 (Watugunung), siklus kembali lagi ke wuku pertama (Sinta). Sistem wuku ini juga dikenal dalam kalender Bali dan masih dipakai dalam perhitungan hari raya tradisional seperti Galungan dan Kuningan.

Mongso dalam Penanggalan Jawa

Mongso (mangsa) adalah sistem penanggalan musim dalam tradisi Jawa yang membagi satu tahun menjadi 12 musim berdasarkan peredaran matahari (kalender surya). Sistem ini dikenal sebagai Pranata Mangsa dan secara historis dibakukan pada masa Sunan Pakubuwana VII di Surakarta pada abad ke-19. Mongso terutama digunakan sebagai pedoman pertanian tradisional untuk membaca tanda-tanda alam, menentukan waktu tanam, dan memprediksi pola hujan–kemarau.

Satu siklus mongso berlangsung sekitar 365 hari dan biasanya dimulai sekitar 22 Juni (mangsa Kasa). Tanggalnya bisa sedikit bergeser mengikuti tahun kabisat dan penyesuaian kalender.


Siklus 12 Mongso (Pranata Mangsa)

Berikut urutan lengkap mongso beserta perkiraan rentang tanggal Masehi dan lamanya hari:

  1. Kasa (± 22 Juni – 1 Agustus) — 41 hari
  2. Karo (± 2 Agustus – 24 Agustus) — 23 hari
  3. Katelu (± 25 Agustus – 17 September) — 24 hari
  4. Kapat (± 18 September – 12 Oktober) — 25 hari
  5. Kalima (± 13 Oktober – 8 November) — 27 hari
  6. Kanem (± 9 November – 21 Desember) — 43 hari
  7. Kapitu (± 22 Desember – 2 Februari) — 43 hari
  8. Kawolu (± 3 Februari – 28 Februari) — 26 hari
  9. Kasanga (± 1 Maret – 25 Maret) — 25 hari
  10. Kadasa (± 26 Maret – 18 April) — 24 hari
  11. Dhesta (± 19 April – 11 Mei) — 23 hari
  12. Sadha (± 12 Mei – 21 Juni) — 41 hari

Setelah Sadha, siklus kembali ke Kasa.


Pola Musim dalam Mongso

Secara umum, mongso menggambarkan peralihan musim sebagai berikut:

  • Kasa–Katelu → puncak kemarau (tanah retak, daun berguguran)
  • Kapat–Kalima → pancaroba (tanda-tanda hujan mulai datang)
  • Kanem–Kapitu → musim hujan (curah hujan tinggi)
  • Kawolu–Kasanga → hujan mulai berkurang
  • Kadasa–Sadha → kemarau kembali datang

Namun, dalam praktik modern, pola ini bisa berubah akibat perubahan iklim.


Contoh Penerapan Mongso

1. Pertanian Tradisional

Petani Jawa menggunakan mongso untuk menentukan waktu tanam:

  • Kalima–Kanem: mulai mengolah sawah karena hujan turun.
  • Kapitu: masa subur untuk padi karena air melimpah.
  • Kasanga–Kadasa: panen padi.
  • Kasa–Karo: cocok untuk palawija (jagung, ketela) saat kemarau.

2. Perikanan & Kelautan

Nelayan tradisional membaca mongso untuk memperkirakan arah angin dan gelombang, terutama saat peralihan kemarau–hujan.

3. Budaya & Filosofi

Mongso juga memiliki makna simbolik tentang siklus kehidupan: masa kering (ujian), masa hujan (kesuburan), dan peralihan (perubahan). Ini mencerminkan harmoni manusia dengan alam.

Mongso dalam penanggalan Jawa adalah sistem musim berbasis peredaran matahari yang membagi tahun menjadi 12 bagian dengan karakter alam tertentu. Selain menjadi pedoman pertanian tradisional, mongso juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Jawa dalam membaca tanda-tanda alam dan menjaga keseimbangan hidup.