Desainkalender.com – Berikut adalah daftar tanggal Jawa, pasaran, dan weton untuk seluruh bulan Mei tahun 2026 berdasarkan penanggalan Jawa (tahun Jawa 1959 Dal):
📅 Kalender Jawa — Mei 2026
Berikut adalah daftar tanggal Jawa, pasaran, dan weton untuk seluruh bulan Mei tahun 2026 berdasarkan penanggalan Jawa (tahun Jawa 1959 Dal):
| Tanggal Masehi | Tanggal Jawa | Weton (Hari + Pasaran) |
|---|---|---|
| 1 Mei 2026 | 14 Sela 1959 Ja | Jumat Pon |
| 2 Mei 2026 | 15 Sela 1959 Ja | Sabtu Wage |
| 3 Mei 2026 | 16 Sela 1959 Ja | Minggu Kliwon |
| 4 Mei 2026 | 17 Sela 1959 Ja | Senin Legi |
| 5 Mei 2026 | 18 Sela 1959 Ja | Selasa Pahing |
| 6 Mei 2026 | 19 Sela 1959 Ja | Rabu Pon |
| 7 Mei 2026 | 20 Sela 1959 Ja | Kamis Wage |
| 8 Mei 2026 | 21 Sela 1959 Ja | Jumat Kliwon |
| 9 Mei 2026 | 22 Sela 1959 Ja | Sabtu Legi |
| 10 Mei 2026 | 23 Sela 1959 Ja | Minggu Pahing |
| 11 Mei 2026 | 24 Sela 1959 Ja | Senin Pon |
| 12 Mei 2026 | 25 Sela 1959 Ja | Selasa Wage |
| 13 Mei 2026 | 26 Sela 1959 Ja | Rabu Kliwon |
| 14 Mei 2026 | 27 Sela 1959 Ja | Kamis Legi |
| 15 Mei 2026 | 28 Sela 1959 Ja | Jumat Pahing |
| 16 Mei 2026 | 29 Sela 1959 Ja | Sabtu Pon |
| 17 Mei 2026 | 30 Sela 1959 Ja | Minggu Wage |
| 18 Mei 2026 | 1 Besar 1959 Ja | Senin Kliwon |
| 19 Mei 2026 | 2 Besar 1959 Ja | Selasa Legi |
| 20 Mei 2026 | 3 Besar 1959 Ja | Rabu Pahing |
| 21 Mei 2026 | 4 Besar 1959 Ja | Kamis Pon |
| 22 Mei 2026 | 5 Besar 1959 Ja | Jumat Wage |
| 23 Mei 2026 | 6 Besar 1959 Ja | Sabtu Kliwon |
| 24 Mei 2026 | 7 Besar 1959 Ja | Minggu Legi |
| 25 Mei 2026 | 8 Besar 1959 Ja | Senin Pahing |
| 26 Mei 2026 | 9 Besar 1959 Ja | Selasa Pon |
| 27 Mei 2026 | 10 Besar 1959 Ja | Rabu Wage |
| 28 Mei 2026 | 11 Besar 1959 Ja | Kamis Kliwon |
| 29 Mei 2026 | 12 Besar 1959 Ja | Jumat Legi |
| 30 Mei 2026 | 13 Besar 1959 Ja | Sabtu Pahing |
| 31 Mei 2026 | 14 Besar 1959 Ja | Minggu Pon |
📌 Catatan penting:
- Pada 18 Mei 2026, kalender Jawa berpindah dari bulan Sela ke bulan Besar (tahun Jawa 1959).
- Weton adalah gabungan dari hari dalam minggu (Senin–Minggu) dan pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon), dan digunakan dalam tradisi Jawa untuk menentukan hari baik, perhitungan neptu, serta berbagai adat.
Kalender Jawa
Kalender Jawa adalah sistem penanggalan unik yang diciptakan Sultan Agung (Kerajaan Mataram Islam) pada 1633 M, memadukan kalender Hijriah (bulan), Saka (matahari), dan Jawa lokal. Kalender ini digunakan untuk menentukan hari baik (pernikahan/hajat), perwatakan, dan peruntungan, berbasis kombinasi siklus mingguan (padinan) dan 5 hari pasaran.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai kalender Jawa:
- Perpaduan Dua Sistem (Lunisolar): Kalender Jawa unik karena menggabungkan pergerakan bulan terhadap bumi dan bumi mengelilingi matahari.
- Siklus Hari & Pasaran:
- Padinan (7 hari): Senin, Selasa, Rabu, Kami, Jumat, Sabtu,Minggu.
- Pasaran (5 hari): Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
- Weton: Kombinasi hari (padinan) dan pasaran menghasilkan hari kelahiran atau weton yang sering digunakan untuk meramal perwatakan dan kecocokan.
- Nama Bulan (Siklus 12 bulan):Â Suro, Sapar, Mulud, Bakdo Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dzulqoidah, dan Besar.
- Istilah Lain: Mengenal juga Windu (siklus 8 tahun), Kurup (120 tahun), dan Pranatamangsa (penanggalan berbasis musim untuk pertanian).

Siklus Neptu dan Hari Pasaran Jawa
Neptu hari dan pasaran Jawa adalah sistem penjumlahan nilai hari dalam kalender Jawa yang digunakan untuk berbagai keperluan tradisional, seperti menentukan hari baik (weton), kecocokan jodoh, hari selametan , memulai bisnis, jual beli dan waktu penting lainnya.
Dalam penanggalan Jawa ada dua siklus:
- Hari (7 harian): Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu.
- Pasaran (5 harian): Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
Masing-masing memiliki nilai angka (neptu):
Neptu Hari:
- Minggu = 5
- Senin = 4
- Selasa = 3
- Rabu = 7
- Kamis = 8
- Jumat = 6
- Sabtu = 9
Neptu Pasaran:
- Legi = 5
- Pahing = 9
- Pon = 7
- Wage = 4
- Kliwon = 8
Neptu seseorang dihitung dengan menjumlahkan nilai hari dan pasarannya saat ia lahir (disebut weton). Hasil penjumlahan ini dipercaya memiliki makna tertentu menurut tradisi Jawa.
Wuku dalam penanggalan Jawa
Wuku dalam penanggalan Jawa adalah siklus pekan tradisional yang berlangsung selama 30 wuku, masing-masing berdurasi 7 hari, sehingga satu siklus wuku berjumlah 210 hari. Sistem ini berasal dari tradisi Hindu-Jawa dan masih digunakan untuk menentukan hari baik, perhitungan weton, serta keperluan adat dan spiritual dalam budaya Jawa dan Bali.
Nama-nama 30 Wuku:
- Sinta
- Landep
- Wukir
- Kurantil
- Tolu
- Gumbreg
- Warigalit
- Warigagung
- Julungwangi
- Sungsang
- Galungan
- Kuningan
- Langkir
- Mandasiya
- Julungpujut
- Pahang
- Kuruwelut
- Marakeh
- Tambir
- Medangkungan
- Maktal
- Wuye
- Manahil
- Prangbakat
- Bala
- Wugu
- Wayang
- Kulawu
- Dukut
- Watugunung
Setelah wuku ke-30 (Watugunung), siklus kembali lagi ke wuku pertama (Sinta). Sistem wuku ini juga dikenal dalam kalender Bali dan masih dipakai dalam perhitungan hari raya tradisional seperti Galungan dan Kuningan.
Mongso dalam Penanggalan Jawa
Mongso (mangsa) adalah sistem penanggalan musim dalam tradisi Jawa yang membagi satu tahun menjadi 12 musim berdasarkan peredaran matahari (kalender surya). Sistem ini dikenal sebagai Pranata Mangsa dan secara historis dibakukan pada masa Sunan Pakubuwana VII di Surakarta pada abad ke-19. Mongso terutama digunakan sebagai pedoman pertanian tradisional untuk membaca tanda-tanda alam, menentukan waktu tanam, dan memprediksi pola hujan–kemarau.
Satu siklus mongso berlangsung sekitar 365 hari dan biasanya dimulai sekitar 22 Juni (mangsa Kasa). Tanggalnya bisa sedikit bergeser mengikuti tahun kabisat dan penyesuaian kalender.
Siklus 12 Mongso (Pranata Mangsa)
Berikut urutan lengkap mongso beserta perkiraan rentang tanggal Masehi dan lamanya hari:
- Kasa (± 22 Juni – 1 Agustus) — 41 hari
- Karo (± 2 Agustus – 24 Agustus) — 23 hari
- Katelu (± 25 Agustus – 17 September) — 24 hari
- Kapat (± 18 September – 12 Oktober) — 25 hari
- Kalima (± 13 Oktober – 8 November) — 27 hari
- Kanem (± 9 November – 21 Desember) — 43 hari
- Kapitu (± 22 Desember – 2 Februari) — 43 hari
- Kawolu (± 3 Februari – 28 Februari) — 26 hari
- Kasanga (± 1 Maret – 25 Maret) — 25 hari
- Kadasa (± 26 Maret – 18 April) — 24 hari
- Dhesta (± 19 April – 11 Mei) — 23 hari
- Sadha (± 12 Mei – 21 Juni) — 41 hari
Setelah Sadha, siklus kembali ke Kasa.
Pola Musim dalam Mongso
Secara umum, mongso menggambarkan peralihan musim sebagai berikut:
- Kasa–Katelu → puncak kemarau (tanah retak, daun berguguran)
- Kapat–Kalima → pancaroba (tanda-tanda hujan mulai datang)
- Kanem–Kapitu → musim hujan (curah hujan tinggi)
- Kawolu–Kasanga → hujan mulai berkurang
- Kadasa–Sadha → kemarau kembali datang
Namun, dalam praktik modern, pola ini bisa berubah akibat perubahan iklim.
Contoh Penerapan Mongso
1. Pertanian Tradisional
Petani Jawa menggunakan mongso untuk menentukan waktu tanam:
- Kalima–Kanem: mulai mengolah sawah karena hujan turun.
- Kapitu: masa subur untuk padi karena air melimpah.
- Kasanga–Kadasa: panen padi.
- Kasa–Karo: cocok untuk palawija (jagung, ketela) saat kemarau.
2. Perikanan & Kelautan
Nelayan tradisional membaca mongso untuk memperkirakan arah angin dan gelombang, terutama saat peralihan kemarau–hujan.
3. Budaya & Filosofi
Mongso juga memiliki makna simbolik tentang siklus kehidupan: masa kering (ujian), masa hujan (kesuburan), dan peralihan (perubahan). Ini mencerminkan harmoni manusia dengan alam.
Mongso dalam penanggalan Jawa adalah sistem musim berbasis peredaran matahari yang membagi tahun menjadi 12 bagian dengan karakter alam tertentu. Selain menjadi pedoman pertanian tradisional, mongso juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Jawa dalam membaca tanda-tanda alam dan menjaga keseimbangan hidup.